Penyakit kanker payudara masih menjadi momok yang sangat menakutkan untuk kaum hawa, tetapi bukan tidak mungkin bisa disembuhkan apalagi jika terdiagnosa dalam stadium dini. Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menjadi wadah bagi mereka yang ingin lebih teredukasi tentang penyakit kanker payudara. YKPI juga menjadi tempat bagi para penyintas kanker payudara untuk mendapatkan semangat tambahan dalam menjemput kesembuhan. YKPI memiliki dua komunitas untuk para penyintas kanker payudara yaitu SKP Dian dan SKP Kartika. Salah satu penyintas yang bergabung di SKP Kartika Yayasan Kanker Payudara Indonesia adalah Ibu Zulaeha.
Ditemukan benjolan di payudara membuat Ibu Eha, sapaan akrab Ibu Zulaeha menjalani operasi pengangkatan benjolan. Namun sayang, benjolan yang semula diperkirakan jinak ternyata adalah kanker payudara setelah dilakukan biopsi dengan pengambilan sampel berupa cairan.
“ Di bulan Desember tahun 2019 ditemukan benjolan lalu bulan Januari tahun 2020 dilakukan pengangkatan benjolan itu tapi sayangnya pada saat itu tidak dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi karena diperkirakan benjolannya itu jinak. Di pertengahan Maret 2020 karena bertepatan dengan COVID, jadi saya tidak dirujuk ke rumah sakit walaupun sudah ditemukan lagi benjolan yang abnormal. Baru di bulan April 2021 karena saya sudah merasa sakit sekali saya konsul lagi dan disitulah akhirnya dilakukan biopsi dengan mengambil sampel cairan saja dan hasil dari biopsi itu di tanggal 27 April saya dinyatakan positif kanker payudara. Saya tidak bisa berkata apa-apa, saya bingung dan takut saat itu. Akhirnya kata dokter tindakan terbaik adalah mastektomi,”cerita Ibu Eha
Efek dari pengobatan kemoterapi yang dijalani Ibu Eha sangatlah berat sampai harus membuat wanita berhijab ini tidak bisa bangun dari tempat tidur. Namun, setelah efek sudah tak ada, Ibu Eha bisa menjalani kegiatan yang membuatnya lebih semangat dan bahagia yaitu mengajar membaca Al-Qur’an.
“ Pada saat kemoterapi itu efek untuk saya karena memang saya memiliki HB yang rendah jadi itu sangat luar biasa. Saya setiap habis kemoterapi itu selama lima hari saya tidak bisa makan, saya tidak bisa minum, itu rasanya sangat ga karuan sampai saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saat itu saya benar-benar ngedrop sampai saya harus ke rumah sakit untuk transfusi darah. Tapi alhamdulillah saya bisa melewati itu semua dan pada saat kemoterapi saya tetap bisa mengajar TPQ. Setiap kali selesai kemoterapi saya diantar suami saya ke sekolah untuk ngajar. Karena dengan mengajar membuat saya bahagia jadi saya ga kepikiran dengan penyakit saya dan saya jadi lebih semangat dalam menjalani hari-hari saya,” tutup Ibu Eha